Tuesday, March 11, 2008

Obat Penyakit Maag

Obat Penyakit Maag

Sejak duduk di bangku kuliah dulu sekitar tahun 1980 saya mengalami penyakit Maag yang sangat mengganggu. Saat pertama kali terserang penyakit ini, rasanya di perut sangat sakit, hingga muntah2 disertai dengan diare. Hingga tahun 2006 penyakit ini tak kunjung sembuh.

Dari pengalaman yang dapat saya catat, beberapa hal yang memicu penyakit ini bangkit kembali, adalah:
1. Telah makan
2. makan yang berasa asam seperti jeruk, cuka, dll
3. makan makanan yang pedas, seperti cabai, merica, dll
4. makan sayuran2an seperti kol, bayam, kangkung, sawi dan hampir semua yang sayuran dedaunan yang hijau.
Suatu saat sewaktu kambuh, ada yang menganjurkan agar saya mencari daun RUKAM dan direbus untuk diminum airnya.

Saya coba mencari dan ada yang mengetahui pohon ini di Sumatera, saya pesan untuk dibawakan daunnya untuk saya coba minum air rebusannya, dan ternyata setelah saya minum rutin selama 1 Minggu, hasilnya LUAR BIASA, sejak tahun 2006 hingga saat ini penyakit MAAG saya sudah sembuh total.

Sedikit tentang POHON RUKAM (catatan dari penelitian IPTEK)
Rukam berperawakan pohon kecil, tingginya 5-15(-20) m; batang dan percabangannya yang tua biasanya bengkok bengkok, beralur dan bercabang-cabang di dekat pangkalnya; batang yang muda beserta cabang-cabangnya berduri keras dan mengayu, bercabang-cabang atau tidak, panjang duri mencapai 10 cm; pohon yang diperbanyak dengan klon biasanya tidak berduri. Daunnya berbentuk lonjong sampai bundar telur atau jorong sampai lanset-lonjong, berukuran {(6,5-)10-15(-18)} cm x {4-7(-9)} cm, tak berbulu atau berbulu pada tulang tengah dan peruratan daunnya, lembaran daun sebelah atas seringkali berkilap, berwarna hijau tua, pada saat daun masih muda berwarna merahkecoklatan dan menggantung, pinggiran daun bergerigi kasar; tangkai daun panjangnya 5-8 mm. Perbungaannya berbentuk tandan berbunga sedikit, berukuran pendek, berada di ketiak daun, berbulu halus; gagang bunga panjangnya 3-4 mm; bunga berwarna kuning kehijau-hijauan, umumnya berkelamin tunggal; daun kelopak 4 helai, jarang 3-6 helai; tidak berdaun mahkota; bunga jantan bercuping cakram 8, berdaging, berwarna jingga atau putih kekuning-kuningan, berbenang sari banyak sekali; bunga betinanya biasanya tak berbenang sari, tangkai putik 4-6(-8), lepas-lepas, kepala putiknya kurang tegas, bercuping dua. Buahnya bertipe buah buni yang bentuknya bulat, bulat gepeng sampai bulat telur sungsang, berdiameter 2-2,5 cm, berwarna hijau muda sampai merah jambu atau hijau-lembayung sampai merah tua, berdaging keputih-putihan, banyak mengandung air yang asam rasanya; di ujung buah masih ada bekas tangkai putik kecil-kecil sebanyak 4-6(-8), mirip paruh, dalam bentuk lingkaran. Berbiji pipih, sebanyak 4-7 butir. Kandungan Buah rukam yang telah berwarna merah-lembayung tua memiliki daging buah berwarna putih. Analisis per 100 g bagian yang dapat dimakan di Filipina menunjukkan perbandingan sebagai berikut: 77 g air, 1,7 g protein, 1,3 g lemak, 15 g karbohidrat, 3,7 g serat, dan 0,8 g abu. Nilai energinya 345 kJ/ 100 g.
Syarat Tumbuh
Rukam tumbuh di lingkungan tropik basah pada ketinggian sampai 1500 m dpl., tetapi dijumpai juga yang tumbuh liar pada ketinggian 2100 m dpl. Habitat alaminya adalah hutan primer dan sekunder, seringkali dijumpai di sepanjang sungai, dan rukam ini tumbuh di bawah naungan atau di lahan terbuka. Pohon rukam tampaknya dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai suhu, curah hujan, dan tipe tanah.

CARA PENGOBATAN
Ambil DaunRukam, lalu dijemur hingga kering.
1. Rebus 3-5 helai daun yang sudah kering dengan 1-1,5 gelas air
2. diamkan sampai mendidih hingga airnya berwarna seperti air teh
3. tuangkan dalam gelas dan dinginkan
4. minum 1-2 kali sehari pagi dan sore

Bagi permulaan penyembuhan, dapat dilakukan sampai 2 minggu, kemudian bisa dikurangi 1 kali sehari hingga anda merasa sembuh.

Pengobatan Trigeminal Neuralgia

KRONOLOGIS PENYAKIT “TRIGEMINAL NEURALGIA”
YANG SAYA ALAMI SEJAK TAHUN 1996


Awal mula penyakit ini, saya alami datangnya secara tiba-tiba. Sebagaimana biasanya dalam perjalanan berangkat ke kantor setiap pagi, sambil jalan saya sarapan di mobil makan roti yang diolesi dengan mentega dan messes (coklat). Perkiraan saya waktu itu adalah bulan Juni tahun 1996. Perasaan pertama kali adalah saat mau menggigit roti sarapan tadi, tiba-tiba dari rahang sebelah kanan bawah terasa sangat sakit seperti di sestrum dan naik ke dahi bagian kanan atas dengan perasaaan yang sangat nyeri sesaat (hitungan detik). Setiap kali mau menggigit roti tersebut, kembali timbul nyeri yang sama.

Saya teringat bahwa diawal tahun bulan Februari tahun yang sama 1996 saya ke dokter gigi di Tj. priok, pada saat itu gigi saya (geraham bagian atas) sedang sakit dan pada saat itu langsung dicabut, karena dokter tersebut menyatakan tidak apa-apa dicabut walaupun dalam keadaan sakit.

Pada hari dimana saya rasakan nyeri tersebut, saya ijin dari kantor untuk ke dokter gigi yang mencabut, untuk periksa, apakah ada sesuatu akar gigi yang menyebabkan geraham bawah kanan saya tiba-tiba sakit setiap kali makan / menggigit makanan. Dr. Mitrono menyuruh saya dengan memberikan surat pengantar untuk foto rahang ke RS Carolus. Hasilnya segera saya bawa kembali untuk dicek oleh Dr Mitrono, dan tidak ada yang mencurigakan atau ada akar gigi yang ketinggalan. Beliau akhirnya menyuruh saya ke dokter Ahli Syaraf.

Sepulang dari kantor saya pergi ke RS Mitra Keluarga Bekasi untuk diperiksa oleh Dr ahli syaraf (saya lupa nama Dr tersebut). Dokter tersebut memberitahukan bahwa jenis penyakit saya adalah Trigeminal Neuralgia (TN) . Dokter bersangkutan menyatakan bahwa hanya ada 2 alternatif pengobatan penyakit ini, yaitu pertama makan obat seumur hidup atau operasi. Beliau memberikan obat Tegretol 200 mg Saya memilih untuk memakan obat dulu dan hanya 1 kali saja saya ke Dokter tersebut.

Setelah itu saya pergi ke Prof.DR Mahar Mardjono di RS Carolus, dan setelah diperiksa, beliau juga menyatakan bahwa penyakit saya ini adalah TN, dan beliau memberikan obat Tegretol 200 mg dengan 3 kali makan sehari ¼ tablet selama 1 minggu, dan minggu berikutnya ditambah menjadi ½ tablet 3 kali sehari selama 2 minggu. Disamping itu juga diberikan obat Neurobion 200 mg warna putih 3 x 1 hari. Setiap minggu periksa, tidak ada perubahan dan makin sakit. Prof DR M.Mardjono menyuruh untuk makan 1 tablet 3 kali sehari; dan selama 4 bulan tidak ada perubahan. Akhirnya Prof DR.Mahar Mardjono menyarankan untuk operasi.

Dari apotik Century Jln. Kebon Sirih, saya dapat informasi bahwa ada Dokter ahli syaraf yang praktek di Klinik Bulungan, yaitu Dr. ….. Pendapat yang sama yang diberikan kepada saya bahwa penyakit saya adalah TN. Beliau memberkan obat NEURONTIN dan menyuntik pada bagian pipi dan rahang sebelah kanan ada 7 titik. Dengan pengobatan selama kurang lebih 4 bulan, penyakit saya sembuh dan dapat makan normal.
Saya mengalami kesembuhan hampir 9 bulan yaitu +/ bulan April 1997. Ketika kambuh kembali, saya kembali ke Klinik Bulungan, tetapi Dr. … yang menangani saya sudah tidak praktek lagi karena sudah lanjut usia. Dokter penggantinya adalah Dr. Yoppy, beliau memberikan saya obat NEURONTIN ditambah dengan Neurobion 200 mg. Saya berobat dan ditangani oleh Dr.Yoppy selama 4 bulan, dan tidak ada kemajuan, sehingga beliau memutuskan untuk dioperasi setealah beliau konsultasi dengan Dokter lain di RS yang ada di Lapangan Senopati. Saya tetap tidak mau dioperasi dan kembali mencari Dokter lain.

Dari rekan sekantor, memberikan bahwa di Jln. Lombok ada dokter Akufuntur, yaitu Dr. Suwarno. Saya berobat kesana, dan saya diobati dengan cara akufuntur disamping diberikan obat yang diracik sendiri oleh beliau. Selama kurang lebih 4 bulan saya berobat 2 kali seminggu, dan berhasil sembuh.

Kurang lebih 6 bulan saya sembuh dan kembali kambuh, saya kembali ke Dr Suwarno (Akufuntur), tetapi selama 4 bulan pengobatan seperti yang dilakukan sebelumnya tidak ada perubahan dan semakin sakit.

Saya kembali cari Dokter lain, dan saya pergi ke Klinik THT di Jl. Proklamasi, dan ditangani Dr. …. (Wanita). Beliau langsung memberikan jawaban bahwa penyakit saya ini harus diobati lewat operasi. Tanpa diberi obat saya kembali dan tidak menerima untuk dioperasi.

Saya kembali mencari Dokter, dan ada yang memberitahukan ada Dokter di RS Pertamina, saya konsultasi kesana, dan beberapa bulan tidak ada perubahan.

Kembali saya cari Dokter ke RSPAD dengan Dr. Sugarda. Beliau memberikan obat NEURONTIN karena saya bilang saya tidak kuat kalau memakan obat TEGRETOL. Selama kurang lebih 3 bulan tidak ada perubahan dan tetap sakit.

Saya kembali cari Dokter, dan ada yang memberi tahu bahwa ada Dokter ahli syaraf di Klinik Ruko Harmoni yaitu Dr. Yusuf Misbah (saat itu sebagai kepala kedokteran Presiden Gusdur). Praktek mulai dari jam 21:00. Sehingga saya kadang baru dapat waktu antara pukul 23:00 atau kadang jam 02:00. Beliau memberikan obat racikan dan memberikan suntikan di bagian paha. Selama beberapa bulan tidak ada perubahan dan mulut saya selalu berdarah dibagian gusi dan terjadi pembengkakan. Beliau menyuruh saya untuk berobat juga ke dokter gigi yang ada di klinik tersebut untuk mengurangi pembengkakan dan supaya gusi saya tidak berdarah. Kurang lebih 3 bulan tidak ada perubahan dan tetap sakit.

Kembali saya cari dokter, dan ketemu dengan dokter Prof DR Lumbantobing yang praktek di RS Jakarta. Beliau menyarankan supaya jangan menerima operasi, karena banyak efeknya, sebagaimana pasien beliau yang sudah dianjurkan untuk tidak operasi, tetapi tetap melakukan operasi di Singapura. Hasilnya kurang memuaskan bagi pasien tersebut karena sebagian muka menjadi kebas dan semutan dan tidak berasa. Oleh karena itu beliau hanya memberikan obat dan selama 3 bulan diobati oleh beliau saya sembuh.

Hanya kira-kira 6 bulan sehat kembali sakit, dan saya kembali ke Prof DR L.Tobing, setelah diobati selama kira-kira 3 bulan tidak ada perubahan.

Kembali ada yang memberitahukan bahwa di RS Pantai Indah Kapuk ada Dokter alhi syaraf, yaitu Prof DR Satya Negara. Saya berobat kepada beliau kurang lebih 4 bulan, tetapi selama 4 bulan tersebut tidak ada perubahan, dan beliau memutuskan untuk operasi. Saya tidak mau walaupun beliau telah memberikan surat untuk cek-up (MRI) di RS Pluit untuk persiapan operasi.

Sambil jalan, saya cari Dokter lain dan pada tanggal 17 Desember 2001, saya berobat ke DR.MED.S.HENDRA TARYANA MDDC,PhD. Dimana dokter ini adalah langganan dari Mertua saya. Saya diberi suntikan vitamin B1 di bagian kepala belakang kuping kiri dan kanan serta di pundak kiri dan kanan. Disamping itu saya diberi banyak vitamin,seperti Neurobion 5000 mg, Evion, Super Ester-C, Supradin, dan racikan yang terdiri dari 9 macan. Saya disuntik 2 kali dalam seminggu. Selama kurang lebih 3 bulan, saya mengalami kesembuhan dan bisa makan normal. Kesembuhan ini saya alami selama kurang lebih 6 bulan, karena kembali kambuh pada bulan September 2002. Saya kembali berobat ke DR bersangkutan, dan mulai mengalami kesembuhan kembali tanggal 16 Desember 2002 dan bisa makan normal. Selama Sakit saya selalu makan bubur.

Sampai saat ini saya masih tetap berobat kepada DR MED.S.HENDRA TARYANA MDDC,PhD. Dengan cara yang sama dan obat yang sama. Selama pengobatan mulai dari awal timbangan badan saya juga naik kira2 15 Kg dan mencapai berat normal sesuai dengan tinggi badan.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada DR. MED.S.HENDRA TARYANA MDDC,PhD yang dengan setia mengobati saya.

Namun pada Desember 2004, secara tidak terduga, DR. MED.S.HENDRA TARYANA MDDC,PhD terjatuh dari motor yang saat itu hendak mengobati yang sakit di dekat tinggal beliau di daerah Kebon Kacang IX Jakarta Pusat, dan hidupnya tidak tertolong.

Sejak saat itu, saya mencari Dokter lain, dan saya dipertemukan dengan Dr. Gunadi, SpFK yang praktek di Jl.Tanah Abang III Jakarta Pusat setiap hari Sabtu. Saya diberi pengobatan dengan metode Mesotherapy, yaitu dengan suntikan di bagian atau titik-titik saraf yang sakit, disamping itu tetap diberikan Evion, Neurobion 5000, Ester-C 500. Setelah 3 bulan diobati, saya merasa adanya kesembuhan, dan saya rasakan secara sangat baik mulai bulan Juni 2005, dan sejak itu saya tidak pernah lagi kembali ke Dr Gunadi.

Pertengahan 10 Maret 2006, saya merasakan gejala timbulnya kembali penyakit tersebut yang terasa nyeri di dahi, pangkal hidung, pipi, dan dagu sebelah kanan, serta rahang atas/bawah. Saya segera hubungi Dr Gunadi, ternyata beliau sejak bulan November 2005 tidak praktek lagi. Sejak saat itu saya mencari dokter lain, baik lewat internet maupun informasi lainnya. Sewaktu saya menghubungi Dr Gunadi B, SpFK dianjurkan agar saya menghubungi Dr Budi Riyanto, SpS, yang praktek di RS Graha Medika Kebon Jeruk. Tepatnya saya pertama kali konsultasi kepada pada hari Sabtu, 29 April 2006 dan menceriterakan historis TN dan obat-obat yang sudah pernah saya makan, antara lain : Tegretol, Rivotril, Neurontin. Jenis vitamin Evion, Ester-C, Neurobion. Dr Budi memberikan jenis obat baru yang sebelumnya belum pernah saya konsumsi, namanya KETESSE.

Pada tanggal 17 Juli 2006, saya konsultasi kepada Prof Dr Abdul Hafid Mustafa di Surabaya. Dokter ini saya ketahui hasil searching di Internet, dimana dalam satu makalah dan penelitian salah seorang bimbingannya yang akan mencapai gelar Doktor mendalami penyakit TN. Dari hasil konsultasi, beliau memberikan saya jenis obat baru yang sebelumnya belum pernah saya konsumsi, yaitu ’PROLEPSI’ yang saya konsumsi sampai saat ini bersama dengan KETESSE.


Dokter atau RS yang sudah pernah mengobati saya :
1. Dr. Mahar Mardjono, SpS 1996
2. Dr di Klinik Bulungan (1) 1996
3. Dr di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat 1996
4. Dr Yoppy, SpS 1997
5. Dr di RS Jakarta 1997
6. Dr Suwarno (akufuntur) 1997
7. Dr di RS Pertamina 1998
8. Dr di RS Gatot Subroto 1998
9. Dr SpS di RS Mitra Keluarga Jatinegara 1998
10. Dr di Klinik THT Proklamasi 1998
11. Dr Suwarno (akufuntur) 1997
12. Prof DR Yusuf Misbah 1999
13. Prof DR Satyanegara (RS PIK) 2000
14. Prof DR M. Lumbantobing (RS Jakarta) 2000
15. Dr Akufuntur di RS Mitra Bekasi Timur 2004
16. Dr Akufuntur di Klinik Bekasi Timur 2004
17. Dr Hendra, SpFK 2001-2004
18. Dr Gunadi, SpFK 2004-2005
19. Dr SpS RS Mitra Keluarga Bekasi Timur 2004
20. Dr Budi Riyanto, SpS – RS Graha Medika 2006 (29-04-06)
21. Dr Abdul Hafid Mustafa –
RS Siloam Gleneagles Hospital Surabaya 17-07-2006
22. Prof Hembing 25-09-2006


Pantangan dari Prof Hembing, 26/09/06 :
1. Daging kambing
2. Vetsin
3. Terasi
4. Ikan asin
5. Makanan yang diawetkan
6. Makanan yang bersantan
7. Kerupuk
8. cokelat
9. durian
10. nangka

Monday, March 10, 2008

TRIGEMINAL NEURALGIA - TN

Trigeminal neuralgia (TN), or Tic Douloureux, ( also known as prosopalgia ) is a neuropathic disorder of the trigeminal nerve that causes episodes of intense pain in the eyes, lips, nose, scalp, forehead, and jaw.[1] Trigeminal neuralgia is considered by many to be among the most painful of conditions and is often labeled the "suicide disease" because of the significant numbers of people taking their own lives when they cannot find effective treatments. An estimated 1 in 15,000 people suffers from trigeminal neuralgia, although numbers may be significantly higher due to frequent misdiagnosis. It usually develops after the age of 40, although there have been cases with patients being as young as three years of age [2].

Contents [hide]
1 Pathophysiology
2 Symptoms
3 Treatment
3.1 Medications
3.2 Surgery
3.3 Stereotactic Radiation Therapy
3.4 Other
4 References
5 External links



[edit] Pathophysiology
The pain of trigeminal neuralgia is often falsely attributed to a pathology of dental origin. "Rarely do patients come to the surgeon without having had removed many, and not infrequently all, teeth on the affected side or both sides." [3] Extractions do not help for the pain is originating in the trigeminal nerve and not in an individual nerve of a tooth. Because of this difficulty, many patients may go untreated for long periods of time before a correct diagnosis is made. The trigeminal nerve is the fifth cranial nerve, a mixed cranial nerve responsible for sensory data such as tactition (pressure), thermoception (temperature), and nociception (pain) originating from the face above the jawline; it is also responsible for the motor function of the muscles of mastication, the muscles involved in chewing but not facial expression. Several theories exist to explain the possible causes of this pain syndrome. The leading explanation is that a blood vessel is likely to be compressing the trigeminal nerve near its connection with the pons. The superior cerebellar artery is the most-cited culprit. Such a compression can injure the nerve's protective myelin sheath and cause erratic and hyperactive functioning of the nerve. This can lead to pain attacks at the slightest stimulation of any area served by the nerve as well as hinder the nerve's ability to shut off the pain signals after the stimulation ends. This type of injury also may be caused by an aneurysm (an outpouching of a blood vessel); by a tumor; by an arachnoid cyst in the cerebellopontine angle[4], or by a traumatic event such as a car accident or even a tongue piercing. [1] Two to four percent of patients with TN, usually younger, have evidence of multiple sclerosis, which may damage either the trigeminal nerve or other related parts of the brain. When there is no structural cause, the syndrome is called idiopathic. Postherpetic Neuralgia, which occurs after shingles, may cause similar symptoms if the trigeminal nerve is affected.


[edit] Symptoms
The episodes of pain occur paroxysmally, or suddenly. To describe the pain sensation, patients describe a trigger area on the face, so sensitive that touching or even air currents can trigger an episode of pain. It affects lifestyle as it can be triggered by common activities in a patient's daily life, such as toothbrushing. Breezes, whether cold or warm, wintry weather or even light touching such as a kiss can set off an attack. The attacks are said to feel like stabbing electric shocks or shooting pain that becomes intractable. Individual attacks affect one side of the face at a time, last several seconds or longer, and repeats up to hundreds of times throughout the day. The pain also tends to occur in cycles with complete remissions lasting months or even years. 3-5% of cases are bilateral, or occurring on both sides. This normally indicates problems with both trigeminal nerves since one serves strictly the left side of the face and the other serves the right side. Pain attacks typically worsen in frequency or severity over time. A great deal of patients develop the pain in one branch, then over years the pain will travel through the other nerve branches.

Signs of this can be seen in males who may deliberately miss an area of their face when shaving, in order to avoid triggering an episode. Although trigeminal neuralgia is not fatal, successive recurrences may be incapacitating, and the fear of provoking an attack may make sufferers reluctant to engage in normal activities.

There is a variant of trigeminal neuralgia called "atypical trigeminal neuralgia". In some cases of atypical trigeminal neuralgia, the sufferer experiences a severe, relentless underlying pain similar to a migraine in addition to the stabbing pains. This variant is sometimes called "trigeminal neuralgia, type 2"[2], based on a recent classification of facial pain[5]. In other cases, the pain is stabbing and intense, but may feel like burning or prickling, rather than a shock. Sometimes, the pain is a combination of shock-like sensations, migraine-like pain, and burning or prickling pain. It can also feel as if a boring piercing pain is unrelenting.


[edit] Treatment
There is no cure for trigeminal neuralgia, but most people find relief from medication, from one of the five surgical options or sometimes from one of the many so-called "complementary or alternative" therapies. Atypical trigeminal neuralgia, which involves a more constant and burning pain, is more difficult to treat, both with medications and surgery. Surgery may result in varying degrees of numbness to the patient and lead occasionally to "anesthesia dolorosa," which is numbness with intense pain. However, many people do find dramatic relief with minimal side effects from the various surgeries that are now available.[6]


There are some things that a patient can do to minimize the frequency and intensity of TN attacks:

Apply ice packs or any readily available source of cold to the area of pain. Cold often numbs the area and will reduce the pain.[citation needed]
Get adequate rest in normal rest cycles.
Manage your stress well and keep stress levels low. When you feel a TN attack coming on, try to relax immediately.
Practice healthy living principles such as diet and exercise.




[edit] Medications
Anticonvulsants such as carbamazepine, oxcarbazepine, topiramate, phenytoin, or gabapentin are generally the most effective medications. Pain relievers usually do not help. Anticonvulsant effects may be potentiated with an adjuvant such as baclofen or clonazepam. Baclofen may also help some patients eat more normally if jaw movement tends to aggravate the symptoms.
If anticonvulsants don't help and surgical options have failed or are ruled out, the pain may be treated long-term with an opioid such as methadone.
Low doses of some antidepressants can be effective in treating neuropathic pain.
Botox can be injected into the nerve by a physician, and has been found helpful using the "migraine" pattern adapted to the patient's special needs.
Many patients cannot tolerate medications for years, and an alternate treatment is to take a drug such as gabapentin and place it in an externally applied cream base by a pharmacist who compounds drugs. Also helpful is taking a "drug holiday" when remissions occur and rotating medications if one becomes ineffective.


[edit] Surgery
Surgery may be recommended, either to relieve the pressure on the nerve or to selectively damage it in such a way as to disrupt pain signals from getting through to the brain. In trained hands, surgical success rates have been reported at better than 90 percent.

Of the five surgical options, the microvascular decompression is the only one aimed at fixing the presumed cause of the pain. In this procedure, the surgeon enters the skull through a 25mm (one-inch) hole behind the ear. The nerve is then explored for an offending blood vessel, and when one is found, the vessel and nerve are separated or "decompressed" with a small pad. When successful, MVD procedures can give permanent pain relief with little to no facial numbness.

Three other procedures use needles or catheters that enter through the face into the opening where the nerve first splits into its three divisions. Excellent success rates using a cost effective percutaneous surgical procedure known as balloon compression have been reported[7]. This technique has been helpful in treating the elderly for whom surgery may not be an option due to coexisting health conditions. Balloon compression is also the best choice for patients who have ophthalmic nerve pain or have experienced recurrent pain after microvascular decompression.

Similar success rates have been reported with glycerol injections and radiofrequency rhizotomies. Glycerol injections involve injecting an alcohol-like substance into the cavern that bathes the nerve near its junction. This liquid is corrosive to the nerve fibers and can mildly injure the nerve enough to hinder the errant pain signals. In a radiofrequency rhizotomy, the surgeon uses an electrode to heat the selected division or divisions of the nerve. Done well, this procedure can target the exact regions of the errant pain triggers and disable them with minimal numbness.


[edit] Stereotactic Radiation Therapy
The nerve can also be damaged to prevent pain signal transmission using Gamma Knife or a linear accelerator-based radiation therapy (e.g. Novalis, Cyberknife). No incisions are involved in this procedure. It uses radiation to bombard the nerve root, this time targeting the selective damage at the same point where vessel compressions are often found. This option is used especially for those people who are medically unfit for a long general anaesthetic, or who are taking medications for prevention of blood clotting (e.g., warfarin). A prospective Phase I trial performed at Marseille, France, showed that 83% of patients were pain-free at 12 months, with 58% pain-free and off all medications. Side effects were mild, with 6% experiencing mild tingling and 4% experiencing mild numbness.[8]